Hujan dan Kemelut Waktu Lagi

Hari ini, genap tiga hari berturut lamanya kota Bandung diguyur hujan tak henti. Entah apa yang sedang dipikirkan sang Langit hingga menumpahkan tangis derasnya selama itu. Namun yang jelas, ia juga membawa penghuni di bawahnya untuk ikut merasakan kesedihannya.

Di dalam ruangan syahdu ini, ditemani temaramnya lampu kuning dan udara sejuk yang menyeruak dari jendela yang kubiarkan terbuka, aku menikmati semilir angin yang dibawa sang Hujan. Tak apa, aku menulis ini hanya untuk dijadikan kenangan, bahwa aku pernah disini. Menikmati hujan deras dan semilir syahdu di tengah tumpukan buku yang membawa ketenangan.

Di tengah itu semua, pikiranku berkelana jauh ke depan. Telah kunikmati lima semester di kampus dalam kota syahdu ini, namun bagaimana saat aku tak lagi bersamanya? Tersisa waktu tiga semester bagiku, kurang lebih satu setengah tahun lagi aku akan berada disini. Aaah sial! sepertinya aku akan merindukan masa-masa ini.

Namun begitulah hidup. Saat kita sedang tak ingin berjalan, ia akan terus memaksa kita untuk terus berputar dalam siklusnya: ruang&waktu. Ia begitu tak peduli seberapapun kita menikmati masa ini, waktu akan selalu memberitahu kita kenyataan; Bahwa kita tak mungkin selamanya berada di sini.

Maka ketika kita menyadari kenyataan tersebut, hargailah waktu dan momen-momen indah tersebut. Karena justru, dengan keterbatasan waktu itulah kita lebih bisa menikmati dan menghargai momen yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *