Kebebasan atau Kesepian?

“Dapatkah kamu menjawab itu, hai temanku?”

Aku kembali bertanya sambil mencurahkan sebuah cerita, sekaligus kegelisahan yang belakangan ini terus menghantuiku, kepada temanku, Neira.

“Pagi ini aku terbangun di kamarku. Tanpa ada yang membangunkanku. Tanpa ada yang memperingatiku. Tanpa ada yang memarahiku karena waktu salat Subuh telah lewat,” sambungku pelan.

“Bukankah itu bagus? Tak ada lagi yang memarahimu saat kamu tak bangun. Tak ada lagi yang menghukummu saat kamu melakukan kesalahan. Bukankah itu yang dulu kamu inginkan?” sahut Neira santai.

Aku menyeruput secangkir makna, minuman dari biji hitam eksotis yang konon menyimpan banyak filosofi. Hitam pekat, pahit di awal, hangat di akhir. Entah kenapa, akhir akhir ini aku mulai menyukainya.

“Huft… entahlah. Aku bingung harus menyebut ini kebebasan atau justru kesepian,” kataku pelan.

Satu tahun setelah aku lulus dari sekolah asrama, aku mulai benar benar merasakannya. Pagi datang tanpa ketukan pintu. Tak ada suara lantang yang menyuruh bangun. Tak ada langkah kaki mendekati kamar. Bahkan saat salatku terlewat, tak ada yang menegur. Saat malas, tak ada yang mengingatkan. Saat lelah, tak ada yang menyemangati.

Kamu akan menyebut rasa itu apa? Kebebasan atau kesepian?

“Tahu tidak, Nei. Dulu waktu masih di asrama, aku selalu mendambakan hari hari seperti ini. Hari hari tanpa aturan. Tanpa teguran. Tanpa marah marah. Aku ingin bebas. Ingin mengatur hidupku sendiri. Bahkan pernah terlintas untuk kabur saja dari sana.”

Neira tersenyum tipis. “Lalu sekarang?”

“Sekarang ketika semua itu benar benar aku dapatkan… rasanya aneh. Ada ruang kosong yang tak bisa kujelaskan. Aku pikir ini kebebasan. Tapi kenapa terasa sepi?”

“Jadi kamu menyesal?” tanyanya.

“Bukan menyesal. Aku hanya bertanya tanya. Yang dulu aku dambakan itu sebenarnya kebebasan, atau aku hanya tidak mengerti bentuk perhatian?”

Aku terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Dulu saat guru guruku membangunkanku untuk salat dan mengaji, aku sering membangkang. Dalam hati aku menggerutu. Merasa mereka mengusik ketenanganku. Aku menganggap mereka membatasi kebebasanku. Padahal sekarang…”

Neira memotong lembut, “Padahal sekarang kamu mulai melihatnya dari sisi yang berbeda?”

Aku mengangguk.

“Mal, mungkin yang kamu rasakan bukan kesepian, tapi refleksi. Dulu kamu belum tahu seperti apa dunia setelah asrama. Di sana ada sistem. Ada yang mengingatkan. Ada yang peduli cukup jauh untuk menegurmu. Sekarang semua itu hilang, dan kamu harus menjadi pengingat untuk dirimu sendiri.”

Aku terdiam.

“Lihat dirimu sekarang,” lanjut Neira. “Disiplinmu, caramu berpikir, caramu mengambil keputusan, itu semua tidak muncul begitu saja. Ada proses panjang yang dulu kamu anggap sebagai pengekangan.”

Aku menghela napas panjang. “Ah… benar juga. Aku luput menyadari itu.”

“Kamu tidak kesepian, Mal. Kamu hanya belum terbiasa dengan ruang yang terlalu luas. Dulu ada pagar. Sekarang lapang. Dan kamu sedang belajar berdiri tanpa pagar itu.”

Aku menatap keluar jendela kafe. Seorang ibu tampak memarahi anaknya karena menyeberang sembarangan. Anak itu menunduk, mungkin kesal, mungkin malu.

Tiba tiba aku berpikir, mungkin dulu aku juga seperti anak itu. Tidak mengerti bahwa dimarahi adalah bentuk lain dari dijaga.

“Tenang,” ujar Neira lagi. “Kamu tidak sendiri. Kamu masih punya teman teman. Dan kamu masih punya aku.”

Aku tersenyum kecil. “Terima kasih, Neira.”

“Lagipula, kamu masih bisa menghubungi guru gurumu, kan? Kalau ada kesempatan, ucapkan terima kasih. Minta maaf kalau perlu. Itu bukan kelemahan.”

Aku memandangnya penuh rasa syukur dan berkata dalam hati,
Tuhan, terima kasih Engkau telah mengirimkan dirinya padaku.

Popular Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *